Perbedaan Reksadana Syariah dengan Reksadana Konvensional - Blog Tangan Gatel
reksadana syariah reksadana konvensional

Perbedaan Reksadana Syariah dengan Reksadana Konvensional

Reksadana merupakan salah satu wadah investasi yang dikelola oleh manajer investasi untuk menghimpun modal dari masyarakat untuk diinvestasikan kembali di pasar modal. Saat ini di Indonesia terkenal dua macam reksadana yaitu reksadana konvensional dan syariah. Perbedaan reksadana syariah dan reksadana konvensional akan dikupas tuntas dalam ulasan ini.
Sebagai salah satu produk investasi, reksadana menawarkan keuntungan bagi investor dalam jangka waktu tertentu. Keuntungan tersebut tentu berbeda antara jenis reksadana yang satu dengan yang lain. Termasuk berbeda perusahaan atau manajer investasi, berbeda pula rate return yang ditawarkan.
Biasanya, semakin panjang jangka waktu investasi, semakin besar juga return yang ditawarkan. Hal ini karena manajer investasi memiliki waktu lebih panjang untuk mengelola dana yang masuk dan menginvestasikan di sektor yang potensial.
Namun demikian, reksadana dengan jangka waktu menengah dan pendek juga menawarkan return yang menarik. Pilihan ini tentu memudahkan investor untuk menyesuaikan dengan perencanaan keuangannya.



Istilah konvensional tidak muncul sebelum istilah syariah dikenal masyarakat. Pada dasarnya konvensional berarti umum, sedangkan syariah unumnya merupakan istilah yang dipahami masyarakat dalam menyebut produk keuangan atau lembaga keuangan yang berbasis hukum islam (syariah). Maka istilah konvensional digunakan sebagai pembeda dengan produk keuangan yang mengunakan prinsip syariah.
Reksadana syariah merupakan wadah investasi yang dikelola oleh manajer investasi bekerjasama dengan bank kustodian dengan prinsip syariah. Pengelolaan modal dari investor yang dilakukan oleh manajer investasi diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) agar melakukan kegiatan investasi sesuai dengan prinsip syariah.



Reksadana syariah diizinkan mejadi salah satu poduk investasi pada tahun 2001 melalui Fatwa DSN MUI Nomor 20/DSN-MUI/IV/2001. prinsip syariah tersebut wajib dijalankan oleh semua pihak yang terlibat dalam kegiatan investasi ini. Salah satu konsekuensi penting dari fatwa ini adalah bahwa manajer investasi hanya boleh menginvestasikan dana pada efek syariah saja.
Selain itu, manajer investasi sebagai pengelola dana masyarakat pemodal juga bertugas untuk melaksanakan mekanisme pembersihan harta Non-Halal (cleansing). sehingga jika dalam proses pengelolaan dana investasi tersebut terdapat sumber dana non halal yang masuk, harus dibersihkan oleh manajer investasi.
Berikut beberapa perbedaan reksadana syariah dengan reksadana konvensional:

1. Prinsip Pengelolaan



Reksadana konvensional dikelola berdasarkan prinsip ekonomi dan investasi yang berlaku umum. Sedangkan untuk reksadana syariah, selain harus mempertimbangkan prinsip ekonomi dan investasi umum, juga harus berpegang erat pada prinsip keuangan syariah dan mematuhi Fatwa DSN MUI.

2. Sistem pengawasan

Pengelolaan reksadana konvensional oleh manajer investasi diawasi oleh bank kustodian. Selain berfungsi sebagai lembaga administrasi, bank kustodian berhak melaporkan manajer investasi kepada OJK jika terjadi pelanggaran. Sedangkan untuk reksadana syariah, selain diawasi oleh bank kustodian juga diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah agar taat pada prinsip syariah.

3. Alokasi investasi dan return

Manajer investasi reksadana konvensional bebas menginvestasikan modal yang terkumpul ke portofolio efek yang dianggap menguntungkan. Sedangkan untuk reksadana syariah, modal hanya boleh diinvestasikan pada portofolio efek yang sesuai syariah. Begitu juga soal return, yang dihasilkan oleh reksadana syariah terjamin halal karena prinsip yang dijaga sejak awal.
Inilah ulasan perbedaan reksadana syariah dengan reksadana konvensional yang perlu kamu ketahui. Setelah mengetahui perbedaan tersebut, reksadana apa yang kamu pilih?

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *