Sejarah P2P Lending yang Harus Kamu Ketahui

sejarah p2p lending

P2P (peer to peer) Lending, adalah suatu bentuk perusahaan yang mempertemukan antara pemberi pinjaman dengan peminjam. Perusahaan ini berbasis fintech atau financial technology. Oleh sebab itu, seluruh transaksi P2P Lending dilakukan secara online atau daring. Masih merasa asing dengan bentuk perusahaan ini? Mari telusuri sejarah P2P Lending hingga masuk ke Indonesia.

Baca Juga:

Sejarah P2P Lending di Eropa

Awalnya, sejarah P2P Lending ini muncul di Inggris pada bulan Februari 2005. Perusahaan yang pertama kali berdiri adalah Zopa, yang merupakan P2P Lending pertama di Eropa. Produk pinjaman dengan suku bunga rendah ini cukup unik dan menarik minat banyak orang, sehingga perkembangannya dapat dibilang cukup pesat.

Setelah Zopa, lima tahun berikutnya muncul Funding Circle yang fokus pada penyaluran pendanaan untuk usaha kecil. Funding Circle juga mengalami perkembangan yang cukup pesat.

Sejarah P2P Lending yang mencatatkan perkembangan menjanjikan membuat bentuk perusahaan fintech ini pun marak di Amerika. Tercatat, pada februari 2006 diluncurkan Prosper Marketplace yang diikuti oleh Lending Club di San Fransisco, California.

Sejarah P2P Lending di Asia.

Walaupun P2P Lending baru diperkenalkan di benua Eropa pada tahun 2000-an, tetapi usaha jenis iniĀ  di Asia, khususnya di Tiongkok sudah lebih dulu dikenal bahkan sejak berabad-abad lalu. Hanya saja pada praktiknya, masih dilakukan secara offline atau luring.

Konsep P2P Lending secara daring mulai marak di Tiongkok sejak teknologi e-commerce masuk ke negara itu. Perkembangannya yang cukup pesat mencatatkan peningkatan hingga 3.450 perusahaan P2P Lending dalam kurun waktu 4 tahun.

Tidak hanya di Tiongkok, Indonesia pun mencatatkan perkembangan cukup signifikan sejak tahun 2016. Hal ini dikarenakan perusahaan P2P Lending ini dianggap lebih mampu melakukan penetrasi pada seluruh lapisan masyarakat.

Faktor Utama Sejarah P2P Lending Berkembang Pesat di Indonesia

Menurut data, kebutuhan kredit UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) belum terpenuhi secara keseluruhan oleh pihak bank. Hal ini disebabkan karena profil risiko UMKM yang belumĀ  memenuhi syarat pengajuan kredit pendanaan. Padahal, banyak sekali UMKM yang memerlukan tambahan dana untuk modal usahanya.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *